judul gambar
HukumSuara Rakyat

YLBH-AKA Pasang Badan Untuk Pemuda Kreatif Aceh Jaya, Dukungan Mengalir dari Berbagai Pihak

ABN.Id| Aceh Jaya – Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Advokasi dan Keadilan Aceh (YLBH-AKA) resmi menjadi kuasa hukum RFR, tersangka kasus pembuatan senjata api rakitan yang diamankan pihak kepolisian Polres Aceh Jaya.

“Alhamdulillah, kami dari YLBH AKA telah diberikan kepercayaan menjadi kuasa hukum RFR. Kami akan berusaha semaksimal mungkin dalam bekerja menangani kasus ini,” ujar Hamdani Mustika, Ketua YLBH-AKA Aceh kepada media ini, Selasa (23/2).

Hamdani yang dampingi oleh Saifuddin, Kadiv Bantuan Hukum YLBH-AKA Distrik Aceh Jaya mengungkapkan, RFR adalah pemuda yang kreatif dan sangat inovatif.

Menurutnya, hal ini terbukti bahwa RFR juga mampu membuat drone tanpa batre, robotik, sabun wajah dan juga mampu membuat teh celup herbal daun tongkat ali.

“Jadi, yang perlu publik ketahui adalah, RFR bukan hanya mampu membuat atau merakit Senpi, tapi cukup banyak deretan karya yang telah dibuatnya,” jelas Hamdani.

Lanjut Hamdani, bedasarkan informasi yang input lembaganya, RFR belum pernah ada catatan kejahatan di kepolisian yang pernah dilakukannya.

Maka, kata Hamdani, patutlah semua pihak memberikan apresiasi kepada adek RFR yang mempunyai kemampuan yang luar biasa tersebut, supaya kreatifitas yang dimilikinya dan berpotensi untuk berbagai keuntungan baik bagi dirinnya maupun daerah “terbunuh” oleh perkara sepele itu.

“Jangan gara-gara tinta setitik, rusak susu se belanga,” kata Hamdani, mengutip pribahasa.

“Kita juga berharap kepada instansi terkait agar bisa mengambil dan membina adek Kita itu sebagai bentuk penghargaan atas sejuta karya yg telah mampu dilahirkannya dan mengiring yang bersangkutan dan keahliannya ke arah manfaat baik di sisi ekonomi maupun di sisi potensi Suber Daya Manusia (SDM)” demikian harap Ketua YLBH-AKA ini.

Sebelumnya, salah satu media masa juga sempat merilis dukungan pihak elemen lainnya kepada RFR dan meminta pihak penegak hukum untuk lebih arif dalam mengambil keputusan hukum terhadap pria kreatif itu, guna menghindari pembunuhan bakat dan kreativitas yang dimiliki pemuda asal Kecamatan Krueng Sabee itu.

“”saya sangat berharap penyidik menilai perkara ini secara berimbang, baik secara obyektif maupun subyektif, demi terwujudkan rasa keadilan, kepastian hukum, dan kemanfaatan. Apabila tidak memungkinkan mengeluarkan SP3, maka harapan selanjutnya berada di hadapan Jaksa Penuntut Umum yang memiliki kewenangan untuk menghentikan penuntutan berdasarkan keadilan restoratif (restoactive justice) dikarenakan konsep ini sendiri merupakan suatu metode yang sangat memperhatikan terciptanya keadilan dan keseimbangan bagi pelaku tindak pidana dan korban.,” bunyi harapan yang dituangkan dalam tulisan yang dirilis oleh salah satu situs online, edisi Minggu (20/2) lalu. (Redaksi)

Editor : Dahlan
Koresponden : Jol

Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button