judul gambar
DaerahEkonomiSuara Rakyat

Petani Lubuk Mulai “Petik” Hasil dari “Buah” Patungan

ABN.Id| Aceh Besar – Ratusan Petani di Kemukiman Lubok, Kecamatan Ingin Jaya Aceh Besar, sejak musim tanam rendengan ini mulai menikmati hasil dari “buah” patungan yang dilakukan selama ini oleh para petani, tokoh masyarakat, dermawan dan sejumlah donatur yang mendukung pembangunan pompanisasi air sawah di Gampong Lubuk Gapuy.

Pompanisasi yang dipacu oleh Dinamo bersumber tenaga arus listrik tersebut telah mampu mengangkat air sebesar 50 liter perdetik, selanjutnya menyuplai ke 250 hektar lahan persawahan warga di kawasan tersebut.

Untuk membangun pomponusasi tersebut Petani dan masyarakat kemukiman Lubuk, mengeruk cokek pribadi warga dan tokoh masyarakat, hingga terkumpul Rp 300 juta dan seketika mengadakan sejumlah peralatan dan perlengkapan yang dibutuhkan untuk penarik air dari sungai Krueng Aceh yang mengalir di wilayah tersebut.

Pompanisasi air sawah bertenaga listrik yang dibangun dengan biaya swadaya masyarakat di mukim Lubuk. Foto : Ist

Ketua Gabungan Kelompok Tani Cot Malem Kemukiman Lubuk, Ingin Jaya, Teuku Hadianur, kepada media ini menyebutkan bahwa, sejak musim tanam kali ini para petani setempat agak sedikit lega, tanpa harus merasa risau lagi. Seiring berfungsinya pompanisasi yang dibangun bersama dalam masa setahun terkahir.

Memang, lanjut Hadi, saat ini belum mampu mengairi ke seluruh area persawahan warga yang ada di kemukiman setempat, tetapi 50 persen lahan dari 250 Hektar lahan sawah yang ada, sudah dapat tercover dan dapat dicegah gagal panennya.

“Sudah bertahun-tahun petani kami menderita kerugian, akibat kekeringan pada setiap musim tanam, berbagai upaya telah dilakukan untuk penanganan permasalahan kebutuhan air sawah tersebut juga tidak pernah terealisasi, akhirnya kami berinesiatif untuk patungan membangun pompanisasi ini dan Alhamdulillah, hasilnya mulai kami rasakan,” kata Hadianur, kepada wartawan media ini, Jumat (5/3).

Lanjut Hadi, bahwa beroperasinya dua pompa air tersebut, menjadi berkah bagi petani dan warga kemukiman Lubuk, kerena tidak harus lagi menderita kegundahan saat menjelang musim tanam dan panen tiba.

Untuk memenuhi kebutuhan pemasok air ke area persawahan yang ada, pihaknya mengaku masih membutuhkan dua unit lagi mesin pompa air berkapasitas sama dengan yang sebelumnya, guna meningkatkan debit air yang ditarik dari sungai untuk dialiri ke 250 Hektar lahan petani yang ada.

Saluran pemasok air tampak dialiri air yang bersumber dari pompa dan selanjutnya dialiri ke lahan sawah warga. Foto: Ist

“Sebagai penanggulangan sementara, dua mesin pompa tersebut sudah dapat menunjang, namun idealnya empat mesin pompa, maka kebutuhan air bagi seluruh lahan warga dapat terpenuhi,” jelas Hadi.

Hadi optimis, sejalan dengan tumbuhnya inesitif dan dukungan dari seluruh petani dan masyarakat Kemukiman Lubuk dalam berupaya “Mandiri”, maka potensi lahan persawahan warga yang ada sudah dapat dikelola secara optimal, bahkan untuk selanjutnya potensi dukungan pembinaan dan bantuan dari pemerintah untuk menerapkan budidaya empat kali tanam setahun, dapat diterima dan direkomendasi oleh pihak instansi bersangkutan.

“Bila saya sebutkan kerugian petani dan warga kami di sini akibat tidak pernah terealisasi penunjang air sawah secara optimal, cukup banyak hal. Termasuk gagal memperoleh bantuan dari instansi terkait untuk program tanam empat kali setahun pada musim tanam ini, padahal sebelumnya sebanyak tujuh puluh hektar lahan telah pernah diminta untuk program tersebut, tapi akhirnya hanya kami peroleh tiga puluh hektar saja, karena lahan kami kurang pasokan air, ini adalah salah satu alasan akhirnya kami memilih membangun pompoanisasi dengan dana swadaya masyarakat dan petani yang ada,”ujar Hadi.

Ditanya kenapa baru kali ini terbangun Pompanisasi tersebut, Hadi menceritakan, awal mula dari lahirnya pembangunan pompanisasi tersebut disebabkan oleh inesiatif petani dan masyarakat sekaligus untuk upaya menghilangkan rasa kecewa yang mendalam terhadap pihak terkait yang memiliki kewajiban untuk menangani persoalan masyarakat seperti ini, tetapi tidak pernah ada realisasi meski berbagai jalur telah ditempuh.

alhasil tidak pernah terealisasi bahkan setiap musim tanam petani dan masyarakat selalu harus menelan “Pil” pahit akibat kerugian dari ancaman kekeringan lahan dan tanaman padi.

Padahal area sawah warga tersebut termasuk lahan persawahan yang dilalui saluran irigasi dari krueng Jree, Indrapuri. Namun, apa hendak dikata bagi warga diujung jalur aliran air irigasi, yang terjadi hanya menanti dan menanti yang berujung pada hasil akhir petani merugi.

“Persoalan kekeringan itu hampir setiap tahun terbahas, bahkan dalam rencana kerja pemerintah baik desa hingga kecamatan pun pernah tertuang, tapi ya al hasil nihil. Oleh sebab itu, mengingat kawasan kita juga dilalui oleh sungai krueng Aceh, maka kita bangun pompanisasi seperti ini, ternyata kita peroleh hasil yang cukup memuaskan, hanya dengan dana patungan mampu menjawab persoalan,” tuturnya lagi.

Sementara Koordinator pembangunan Pompanisasi Mukim Lubok ini, Fuadi Ahmad, melalui saluran telpon kepada media ini mengatakan, pompanisasi yang dipacu oleh Dinamo bersumber tenaga listrik tersebut jauh menguntungkan dibandingkan penggunaan mesin diesel berkapasitas debit air sama. Kehematan biasa mencapai hingga 50 persen dibandingkan mesin Diesel biasa.

“Disegi biaya jauh lebih hemat menggunakan pompanisasi tenaga listrik dibandingkan tenaga mesin Diesel, di sisi pengawasan pun jauh lebih mudah merawat pompanisasi,” kata Fuadi Ahmad, sembari menyebut biaya rinci perhari untuk kedua jenis pompanisasi yang dimaksud.

Sebagaimana diberitakan sebelumnya, persoalan kekeringan dan gagal panen dalam jumlah besar saban musim tanam terjadi di Aceh besar, bahkan saat kekeringan melanda tidak cuma melanda kawasan sawah tadah hujan, sawah yang dilalui aliran irigasi tidak jarang turut berdampak, seperti kawasan Baitussalam, Kuta Cot Glie, Suka makmur, Simpang Tiga, termasuk Ingin Jaya.

Persoalan itu nyaris tidak pernah dapat dituntaskan secara sempurna, meski pemerintah setempat telah berupaya dengan menyuplai sejumlah unit mesin pompanisasi dan perlengkapannya kepada kelompok tani yang membutuhkan pada saat itu.

Sebut saja untuk musim tanam rendengan ini, seluar 1000 hektar lebih lahan persawahan di Aceh Besar menderita kekeringan, sejumlah unit mesin pompa telah disalurkan oleh pemerintah Kabupaten Aceh Besar, Provinsi Aceh bahkan kementerian pertanian, atas nama pinjam pakai, namun dapat dipastikan ratusan hektar lahan sawah di Aceh Besar kali ini akan memgalami gagal Panen, bila tidak ada turun hujan secara rutin dalam waktu dekat ini.

Untuk kawasan Kota Jantho dan Seulimum, Jumat sore sempat terjadi hujan lebat dengan intensitas tinggi, namun, hingga berita ini dipublis belum ada laporan secara pasti, apakah kawasan persawahan yang sebelumnya dilaporkan kering, mendapat asupan air dari hujan yang turun Jumat sore tadi atau tidak. (Redaksi)

Penulis : Dahlan
Editor : Zulfikar

Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button