judul gambar
Budaya

“Malam Le” Tradisi Masyarakat Aceh Singkil Dalam Menyambut Malam 27 Ramadhan

ABN.Id| Aceh Singkil – Malam 27 Ramadhan identik “Malam Le” yang disebut Masyarakat Aceh Singkil khususnya Masyarakat Kampong Batang Le, setiap malam 27 Ramadhan masyarakat biasanya membuat tradisi turun temurun yaitu membakar tempurung (batok kelapa) disusun keatas lalu dibakar, Minggu (8/5) malam.

Setiap rumah pasti membuat seperti itu tidak lain tidak bukan untuk memeriahkan malam 27 Ramadhan tersebut, karena tradisi ini cuman sekali dalam setahun yaitu di bulan Ramadhan saja kita jumpai.

Selain membakar tempurung (batok kelapa) ada satu lagi tradisi untuk memeriahkan malam 27 Ramadhan atau disebut malam le, yang dibuat masyarakat setempat yaitu tradisi masang bebedil (tomong) yang terbuat dari bambu untuk memeriahkan.

Salah satu Warga Ketapang Indah Dusun III Muara Pea Nasaruddin Barus mengatakan, setiap malam 27 Ramadhan atau disebut kampong batang lae yaitu malam le, tidak lain tidak bukan yaitu memeriahkan puasa makanya dibuat tradisi seperti itu, dilaksanakan 3 hari menjelang Hari Raya Idul Fitri.

“Selain memeriahkan malam 27 Ramadhan atau disebut malam le, warga juga membuat tradisi lain yaitu membawa Kue Buah Balaka dan Kue Kanji Kelame ke masjid untuk dimakan bersama-sama setelah selesai shalat terawih. Kenapa warga meriahkan malam 27 Ramadhan, mudah-mudahan malam 27 Ramadhan ini bertepatan malam Lailatul Qadar makanya warga memeriahkannya,” ujar Nasaruddin.

Nasaruddin melanjutkan, selain membakar tempurung (batok kelapa) biasanya warga juga Masang Bebedil (tomong) untuk memeriahkan malam 27 Ramadhan juga, masang bebedil tidak pernah lagi dilaksanakan masyarakat kampong ini, diakibatkan bambu untuk buat bebedil tidak ada lagi besar dan sudah juga malas buat seperti itu.

“Untuk memeriahkan Malam 27 Ramadhan ini, warga juga menggunakan mercon, kembang api, lilin biar tambah seru lagi,” katanya.

Harapan saya sebagai warga Ketapang Indah Dusun III Muara Pea khususnya Masyarakat Aceh Singkil atau masyarakat kampong, saya mengajak agar tradisi ini tetap kita pertahankan tahun-tahun mendatang, apalagi malam 27 Ramadhan agar selalu meriah. (Redaksi)

Editor: Zulfikar
Koresponden : Ramail

Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button