judul gambar
EkonomiSuara Rakyat

Halau Hama Burung Pipit, Petani Pasang Jaring Ikan

ABN.Id| Banda Aceh – Hama burung pipit adalah salah satu permasalahan yang mengancam kuantitas panen petani mencapai target. Hama burung tersebut menyerang kala padi berbuah. Belum ada penangkal mujarab dan hemat biaya laksana penangkal hama lainnya.

Untuk mencegah grafik kerugian. Petani mulai berinesiatif untuk memcari solusi penghalau burung pipit tersebut sekaligus menghemat waktu petani untuk tidak harus saban hari menjaga buliran padi di batang dan dapat mencari rezeki tambahan di tempat lain.

Salah satu solusi yang dianggap lebih hemat dalam berbagai hal, petani mencoba menggunakan jaring ikat di atas ketinggian batang padi. Hal tersebut sebagaimana yang dilakukan oleh petani di kawasan Gampong Paya Bujok beuramoe, Kota Langsa.

Dimana ratusan ribu meter pematang sawah padi sedang berbuah ditutupi dengan jaring ikan. Gambar seorang petani tengah mengembangkan jaring ikan tersebut sebagaimana yang diposting salah seorang warga Kota Langsa melalui akun facebook atas nama mustafa, Minggu (14/2).

“Petani di Gampong paya bujok beramoe pasang jaring halau burung,” tulis mustafa.

Dalam komentar status dinding Facebook Mustafa tersebut, terlihat netizen ikut mengomentari sembari menginformasikan bila di salah satu kawasan lain dalam wilayah Kota Langsa juga menggunakan solusi yang sama untuk menghalau burung pipit, bahkan di daerah dimaksud malah sudah jauh- jauh hari menggunakan jaring ikan di pematang sawah

“Iranto katreb ka geupasang nyareng (di rantau (Rantau pereulak, Kota Langsa-read) sudah lama menggunakan jaring-read),” tulis Nurmalawati.

Hama burung pipit memang sangat mengganggu petani. Mengapa tidak, akibat serangan hama udara itu, tidak jarang petani yang tidak berhasil memanenkan padinya bahkan bisa gagal sama sekali.

Penggunaan jaring ikan untuk menghalau burung pipit itu tidak cuma digunakan oleh para petani di Kota Langsa, tapi metode itu juga pernah digunakan oleh salah seorang petani padi sawah di Aceh Besar. Menggunakan jaring ikan itu diakui petani tersebut sangat membantu dirinya dalam menjaga keutuhan buliran padi, agar saat dipanen mendapat hasil yang optimal.

Sementara, sejumlah petak sawah yang digarap di pinggir jalan negara Banda Aceh -Lamno itu, tampak hanya tinggal batang saja, sedangkan bulirnya telah habis diserang burung pipit akibat terlambat ditutupi oleh jaring serupa.

Namun, menggunakan jaring ikan untuk menutupi permukaan area pertanian yang umumnya terhampar luas membentang bukanlah suatu solusi yang mudah, biaya yang dikeluarkanpun cukup signifikan, selain untuk membeli ratusan meter jaring ikan siap pakai, petani juga harus melengkapi dengan untaian tali rapia atau sejenisnya serta tiang yang rata- rata mengunakan batang kayu atau bambu berbagai ukuran sebagai peyangga.

“Memang kita gunakan jaring butuh biaya besar, untung saja area sawah saya tidak luas, bila tidak, mungkin saya juga tidak mampu, karena butuh jaring yang luas,” kata petani asal Aceh Besar itu, saat ditemui media ini beberapa waktu lalu.

Sebelum petani mendapat solusi menggunakan jaring ikan ini, para petani menghalau hama burung pipit dengan cara tradisional, yaitu menjaga padi secara rutin bahkan saban hari selama buliran padi belum dapat di panen. Sebagai alat bantu, petani menggunakan orang-orangan sawah atau untaian tali yang dilengkapi dengan gendrang yang terbuat dari kaleng susu bekas atau bahan sejenisnya yang dapat menimbulkan suara gaduh.

Namun, hanya mampu mengusir burung, tapi tidak mampu memberikan waktu longgar untuk petani mengerjakan hal lain sebagai penopang biaya hidup hari-hari.

Para petani dari sejumlah daerah itu mengharapkan pemerintah mampu mencari solusi untuk penangkal penghalau hama burung pipit itu seperti solusi untuk mengusir sejumlah hama lainnya yang turut mengganggu tanaman petani, misalnya kiong emas, tikus, babi hutan dan walang sangit dan hama lainnya yang kerab mengganggu tanaman padi petani.

“Kita berharap pemerintah juga mampu mencari solusi jitu dan hemat biaya dalam menangani hama burung pipit ini, karena hama yang satu ini memang sangat meresahkan,” demikian harap pria setengah baya tersebut saat itu. (Redaksi)

Penulis/editor : Dahlan
Sumber : Berbagai Sumber

Show More
judul gambar judul gambar judul gambar judul gambar judul gambar

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button