judul gambar
DaerahKesehatanPeristiwa

Farid Wajdi Meninggal Usai Diserang Covid-19 “Selamat Jalan Guru Besar ! “

Berita Nasional Aceh- Banda Aceh| Innalillahi wa inna ilaihi rajiuun. Sontak masyarakat Aceh dan Dunia pendisdikan Aceh sektika terkejut mendengar sang Guru Besar di dunia Pendidikan berbazis Islam (UIN Ar Raniry) Prof DR Farid Wajdi Ibrahim MA telah pergi untuk selamanya dan tidak akan kembali lagi kehadapan Sahabat, Murid, bawahannya, bahkan keluarganya sendiri.

Biro Humas dan Protokoler Aceh, merilis informasi duka itu dan mengirim melalui pesan elektronik ke berbagai redaksi media masa. Pemerintah Aceh mengaku berlangsungkawa mendalam atas kepergian sosok tokoh pendidikan Aceh yang selama ini dikenal sebagai pemikir dan sosok teladan bagi seluruh masyarakat Aceh ini.

“Gubernur Nova: Kita Kehilangan Sosok Pemikir dan Teladan,” demikian judul press rilis Biro Humas Pemerintah Aceh, Sabtu Sore (13/8).

Dalam rilis tersebut dituliskan bahwa Farid Wajdi meninggal dunia dalam perawatan di Rumah Sakit Umum Meuraxa Banda Aceh, Namun tidak disebutkan penyakit yang diderita Mantan Rektor UIN dua Periode ini secara detil.

“Bapak sangat terkejut saat mengetahui informasi itu. Kita kembali kehilangan sosok pemikir dan teladan di masyarakat Aceh,” tulis Iswanto mengutip ucapan Gubernur Nova.

Kekagetan yang dialami Gubernur Aceh itu bukan tidak beralasan, tapi dua hari sebelumnya Farid Wajdi masih bersama sama Gubernur Aceh, hadir dan ikut serta dalam penyambutan kedatangan Kapolda Aceh yang baru Irjen Pol Ahmad Haydar di Bandara Iskandar Muda Aceh Besar, bahkan Farid adalah orang yang pertama melakukan peusijuk (Tepung tawar) Kapolda Aceh sebagai bentuk ritual Adat dan budaya Aceh dalam menerima tamu “terimong Jamee” yang dilakukan oleh Tokoh Adat.

Kebetulan dalam kesempatan tersebut Farid Wajdi adalah sebagai Ketua Mahkamah Adat Aceh (MAA) Provinsi Aceh.

Sejak pertama beredarnya informasi meninggalnya pria kelahiran 5 Maret 1961 di Rukoh, Kecamatan Darussalam Aceh Besar itu, ungkapan belasungkawa terus mengalir terutama melalui media sosial Face Book dan Twitter dan sejumlah media Sosial lainnya demikian juga melalui media massa on line yang beroperasi di Aceh.

Sejumlah media on line sempat memposting kegiatan salat fardhu kifayah yang dilaksankan oleh sejumlah kalangan masyarakat kepada Jenazah Farid Wajdi hingga prosesi penggalian kuburan yang berlokasi di Rukoh Darussalam oleh warga di Gampong setempat.

Perginya Farid Wajdi untuk selamanya ini menambah catatan Aceh kehilangan Tokoh -tokoh hebatnya, baik dari kalangan ulama maupun kalangan akademisi. Sebelumnya tepatnya sebulan lalu Aceh juga kehilangan salah seorang ulama atau pimpinan Dayah ternama di Seulimum Aceh Besar, yaitu pimpinan dayah perempuan Seulimum” Ruhul Fatayat” sekaligus ketua MPU Kabupaten Aceh Besar, Tgk H Aba Mukhsalmina bin Abdul Wahab.

Farid Wadji dikabarkan Terpapar Covid-19

Dikutip dari postingan Media On line Kompas.com edisi Sabtu (15/8). Menginformasikan bahwa Ketua MAA Aceh Tutup Usia akibat diserang oleh Covid-19.

“Farid tutup usia setelah menjalani perawatan di Ruang Respiratory Intensif Care Unit ( RICU) Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Meuraxa Banda Aceh. Wakil Direktur Pelayanan RSUD Meuraxa Banda Aceh dr Ihsan menyebutkan, Farid tiba di rumah sakit pada Sabtu dini hari dengan keluhan sesak napas.
Setelah diperiksa dengan PCR, Farid dinyatakan positif Covid-19.,” demikian Tulis Kompas.com

Meski di dalam keterangan press rilis Biro Humas Pemerintah Aceh tidak menyebutkan secara detil jika Farid Wajdi meninggal akibat di serang Covid-19.

Namun dari keterangan salah seorang yang diklim sebagai kolega Almarhum Prof Farid yaitu Prof Dr Syafrizal Abbas yang juga disiarkan melalui press rilis Biro Humas Pemerintah Aceh sempat menyebutkan bahwa prosesi fardhukifayah kepada Prof Farid Wajdi dilakukan oleh pihak RSU Meuraxa.

“Almarhum akan dikebumikan di pemakaman keluarga di Gampong Rukoh, Darussalam. Info terkini, saat ini jasad Almarhum sedang dalam proses fardhukifayah di RS Meuraxa untuk kemudian dishalatkan di sana. Setelah itu menuju Meunasah Rukoh untuk dishalatkan, dan selanjutnya ke pemakaman keluarga yang juga di Gampong Rukoh, bagi yang belum sempat menyalatkan maka dapat menyalatkan di lokasi makam.,” demikian ditulis dalam rilis Biro Humas Pemerintah Aceh, yang diterima media ini melalui pesan elektonik (email), Sabtu Sore.

Sebagaimana diberitakan sejumlah media massa sebelumnya. Intensitas ancaman Covid-19 di Aceh, Khususnya Banda Aceh mulai kembali meningkat dan berdasarkan keterangan jubir Covid-19 Aceh, Saifullah AG beberapa hari lalu sebagaimana yang dipublis oleh sejumlah media masa menyebutkan Banda Aceh kembali menyandang status “wilayah merah Covid-19”.

Selanjutnya disusul kembali dengan informasi terdeteksi 16 orang siswa dari SMAN Modal Bangsa pada Kamis lalu yang akhirnya Jumat (13/8) Proses belajar mengajar tatap muka di Sekolah Nomor satu di Aceh itu resmi ditutup dan seluruh siswa dan siswi dikembalikan ke orang tua masing -masing.

“Saya hendak menjemput anak ke SMA modal bangsa, sudah dipesan untuk di jemput karena sudah ada siswa yang terpapar Covid-19,” ujar salah seorang sumber yang dapat dipercaya saat berkomunikasi dengan wartawan media ini Jumat (13/8) lalu.

Tak cuma itu salah satu pasantren Moderen yang berlokasi di Kabupaten Aceh Besar dikabarkan juga sudah menutup proses belajar mengajar secara tatap muka dalam beberapa hari terakhir, karena sudah terdeteksi beberapa santrinya terpapar Covid-19. (Redaksi)

Editor: Dahlan

Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button