judul gambar
EkonomiPemerintahan

Efek Perubahan Ambang Batas dan Pandemi,Penerimaan ZIS Aceh Besar Menurun

ABN.Id| Aceh Besar – Pasca perubahan ambang batas nilai wajib zakat (nisab) dan Pandemi Covid- 19 yang melanda,penerimaan Zakat di Baitul Mal Aceh Besar menurun pada tahun 2020.

Kepala Sekretariat Baitul Mal Aceh Besar Heru Sapurta,SH,MH yang dikonfirmasi media ini Kamis (18/2) di Kota Jantho, menyebutkan jumlah penerima Zakat tahun 2020 di Baitul Mal Aceh Besar sebesar Rp 12.261.782.361,93 dan penerimaan Infak Rp 2.103.820.829.03 total Rp 14.365.603.190.

Penerimaan ZIS tahun 2020 menurun,jika dibandingkan dengan penerimaan tahun 2019. Penurunan terjadi hingga Rp 1.571.607.624.

Dimana penerimaan ZIS tahun 2019 tercatat Rp 15.937.210.814, sedangkan tahun 2020 hanya tercatat Rp 14.365.603.190.

“Bila dibandingkan dengan penerimaan tahun sebelumnya,terjadi penurunan sekitar satu milyar setengah,” kata Heru.

Menurut Heru, menurunnya penerimaan ZIS Aceh Besar pada tahun 2020 itu bukan akibat kurangnya semangat dan kesadaran para muzakki dalam membayar zakat penghasilannya. Tetapi akibat adanya perubahan nilai ambang batas (nisab) masyarakat wajib zakat penghasilan dan ambang batas pagu nilai pekerjaan yang termasuk wajib zakat.

Ambang batas penghasilan masyarakat wajib Zakat berada di angka Rp 6,9 juta perbulan,sedangkan sebelumnya wajib pajak penghasilan di bawah nilai pendapatan Rp 5 juta rupiah perbulan.

Sejalan dengan bergesernya ambang batas wajib zakat tersebut,maka penerimaan di sektor Infak terjadi trend meningkatan yang cukup signifikan hingga 600 persen,jika dibandingkan penerimaan Infak tahun 2019 hanya Rp 335 juta lebih. Sedangkan pada tahun 2020 pembayaran infak mencapai angka Rp 2,1 milyar lebih.

Peningkatan ini tercatat jelas pasca adanya dipisahkan rekening Zakat dan Infak serta bertambahnya jumlah penyumbang infak.

“Kalau sebelumnya hampir sampai ke tingkat kabid dikenakan zakat,tetapi sejak tahun lalu,di kantor kami saja hanya saya dan kepala Baitul Mal yang termasuk Muzakkir wajib zakat sesuai penetapan ambang batas tersebut,selebihnya hanya dikenakan infak saja,” terang Heru.

Di sektor perusahaan (rekanan) pemerintah juga terjadi perubahan ambang batas wajib infak (nisab) hingga nilai angka pekerjaan pekerjaan minimal Rp 50 juta,sementara sebelumnya ambang batas wajib zakat bagi pelaku pekerjaan umum di mulai dari paket bernilai pagu Rp 20 juta.

“Nilai pekerjaan di bawah lima puluh juta tidak dikenakan infak lagi,” sebutnya lagi.

Kecuali itu, penuruman penerimaan ZIS tahun 2020 lalu dipengaruhi oleh situasi ancaman pandemi Covid-19 yang berefek pada keuangan daerah melalui refocussing anggaran besar besaran. Sehingga sejumlah pengerjaan yang sebelumnya berpotensi menjadi sumber pemasukan ZIS ikut ditunda pelaksanaanya.

“Refocussing berdampak besar bagi penerimaan ZIS kita,karena banyak anggaran program pekerjaan pemerintah yang terpangkas,” ujar Heru Saputra.

Pun demikian lanjut Heru, untuk program penyaluran zakat di tahun 2021 ini dipastikan tidak akan berpengaruh. Sebab, jumlah Zakat yang terkumpul masih dapat direalisasi dengan jumlah penerima pada tahun sebelumnya,mengingat Baitul Mal Aceh Besar juga masih terdapat Silpa tahun 2020 senilai Rp 1,5 milyar lagi.

“Untuk penyaluran Zakat tahun ini tidak ada masalah, masih tetap berjalan sebagaimana tahun sebelumnya, mengingat kita juga masih memiliki Silpa tahun sebelumnya satu milyar lagi,” ungkapnya.

Untuk menggenjot kembali penerimaan ZIS tersebut Heru mengaku Baitul Mal Aceh Besar sedang mempersiapkan sejumlah program sosialisasi wajib zakat serta upaya untuk merangkul instansi vertikal yang ada di Aceh Besar, BUMN, BUMD, Dunia usaha serta BUMG untuk dapat membayar ZISya melalui Baitul Mal Aceh Besar.

“Kita sedang mempersiapkan upaya “penjemputan bola” dari sejumlah Muzakki yang berpotensi sudah wajib ZIS,” demikian ujarnya. (Redaksi)

Penulis/Editor : Dahlan

Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button